Jauh dalam lubukku, masih saja aku merasa tak pantas bagi cinta Tuhan.
Kemudian aku teringat dengan kisah di kitab suci mengenai anak yang hilang.
Dimana seorang ayah mempunyai dua orang putra.
Aku terdiam dan kembali menyimpulkan kisah itu. Dan aku sangat tertarik dengan kesimpulan akhirku.
Sang ayah memberitahu putra yang setia bahwa semua yang dimilikinya adalah miliknya, dan dia akan mendapat haknya, tetapi mereka semua harus bergembira karena putra yang hilang telah ditemukan.
Putra yang hilang itu tidak harus meminta maaf atau menebus salahnya.
Yang harus dia lakukan hanya pulang kepada ayahnya.
PULANG KEPADA AYAHNYA.
Hanya itu.
Hanya itu yang diperlukan untuk kembali.
Hanya itu yang diperlukan kita semua.
TUHAN MENCINTAI KITA KARENA BEGITULAH DIA ADANYA, BUKAN KARENA SIAPA KITA.
Ahh,..! Serasa seperti ditembus panah. Dan panah yang ditembakkan langsung dari busur Tuhan ke inti kalbu.
Tuhan tidak mengijinkan persembahanku yang sempurna.
Tuhan tidak peduli apakah aku menjadi mahasiswi terbaik atau menjadi pelayan yang paling rendah hati atau relawan terbesar setelah Ibu Teresa.
Tuhan juga tidak peduli jika aku sangat tersesat dan meninggalkan jejak yang sangat berantakan saat aku tersadar sejauh aku pulang kepada-Nya.
TUHAN MENCINTAIKU KARENA ADALAH SIFAT TUHAN UNTUK MENCINTAI.
Aku tidak bisa membeli cinta itu.
Dan aku juga tidak bisa kehilangan cinta itu.
Aku cukup bukan karena aku cukup, tetapi karena Tuhan cukup mencintai.
"As to my heart, I belong entirely to the Heart of Jesus."

Tidak ada komentar:
Posting Komentar