Selasa, 29 November 2011

TUHAN MENCINTAI KITA KARENA BEGITULAH DIA ADANYA, BUKAN KARENA SIAPA KITA.

Jauh dalam lubukku, masih saja aku merasa tak pantas bagi cinta Tuhan.

Masih sering saja aku bertanya: "Apakah diriku sudah cukup BAIK untuk dicintai Tuhan apa adanya?"

Kemudian aku teringat dengan kisah di kitab suci mengenai anak yang hilang.
Dimana seorang ayah mempunyai dua orang putra.


Aku terdiam dan kembali menyimpulkan kisah itu. Dan aku sangat tertarik dengan kesimpulan akhirku.


Sang ayah memberitahu putra yang setia bahwa semua yang dimilikinya adalah miliknya, dan dia akan mendapat haknya, tetapi mereka semua harus bergembira karena putra yang hilang telah ditemukan.


Putra yang hilang itu tidak harus meminta maaf atau menebus salahnya.
Yang harus dia lakukan hanya pulang kepada ayahnya.


PULANG KEPADA AYAHNYA.


Hanya itu.
Hanya itu yang diperlukan untuk kembali.
Hanya itu yang diperlukan kita semua.


TUHAN MENCINTAI KITA KARENA BEGITULAH DIA ADANYA, BUKAN KARENA SIAPA KITA.


Ahh,..! Serasa seperti ditembus panah. Dan panah yang ditembakkan langsung dari busur Tuhan ke inti kalbu.


Tuhan tidak mengijinkan persembahanku yang sempurna.

Tuhan tidak peduli apakah aku menjadi mahasiswi terbaik atau menjadi pelayan yang paling rendah hati atau relawan terbesar setelah Ibu Teresa.
Tuhan juga tidak peduli jika aku sangat tersesat dan meninggalkan jejak yang sangat berantakan saat aku tersadar sejauh aku pulang kepada-Nya.


TUHAN MENCINTAIKU KARENA ADALAH SIFAT TUHAN UNTUK MENCINTAI.


Aku tidak bisa membeli cinta itu.
Dan aku juga tidak bisa kehilangan cinta itu.

Aku cukup bukan karena aku cukup, tetapi karena Tuhan cukup mencintai.



"As to my heart, I belong entirely to the Heart of Jesus."

ALLAH ADALAH SUMBER DAN ALASAN KEBERADAANKU.

Kata Yesus kepada mereka, “Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku, sebab Aku keluar dan datang dari Allah. Dan Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku."
(Yoh 8:42)

Sabda Yesus diatas mengingatkan aku akan identitas dan asalku sendiri.

Mengingatkan aku agar tidak bermegah dengan keberhasilanku dan kehormatanku sekarang.

Bahwa aku tidak sampai ke sini, dan menjadi seperti saat ini karena keputusan diriku sendiri ataupun orang lain.

Aku ada, karena kasih Allah yang kekal.

Aku muncul dari kedalaman kekekalan karena Allah mengiginkan kehidupan bagiku.

Dari misteri pikiran Allah, keberadaanku yang unik dibentuk.

Dan aku berada disini, menjadi seperti sekarang, karena Allah memutuskan untuk menaruh aku di sini, di tempat ini, saat ini, dalam situasi sekarang, dan dalam profesi saat ini.

Dan kemudian aku bertanya pada diriku, “Mengapa Allah memilih waktu ini dan tempat ini bagi diriku?”

Apakah ada orang-orang yang hidupnya harus kita sentuh?
Apakah situasi, kejadian, dan orang-orang tertentu yang tidak kita sukai, adalah pemberian dari Allah, yang daripadanya kita harus belajar?
Apakah perbuatan baik yang mengetuk hatiku adalah perbuatan yang menunggu aku dari segala kekekalan?

Dan Allah, tak pernah salah dalam menentukan jalan hidup kita.